Assalamu'alaikum

Minggu, 11 Maret 2012

LAWAN LUPA DENGAN MEMBACA

LAWAN LUPA DENGAN MEMBACA

Steve Haryanto, 34 tahun, tersentak dari tidur siangnya. Mendadak ia ingat harus mendatangi resepsi pernikahan seorang karibnya. Tapi jam sudah menunjukkan pukul 14.00, acara resepsi sudah berakhir. Ia pun lemas. Padahal baju batik andalan sudah rapi ia siapkan sejak dua hari sebelumnya. Terpaksa karyawan di sebuah bank swasta di Jakarta Selatan ini mengirimkan pesan pendek kepada sang karib, memohon maklum tak bisa memenuhi undangan. "Saya sangat merasa tidak enak kepada sobat itu," katanya.
Bukan kali itu saja timbul masalah akibat kebiasaan lupanya tersebut. Steve pernah begitu panik karena merasa kehilangan kunci sepeda motor. Padahal kunci itu cuma tak diletakkan di tempat biasanya. Ia juga berkali-kali mencari kacamata yang ternyata nangkring di keningnya. "Pelupa saya ini tidak parah, tapi sering bikin suasana berantakan," katanya.

Meski masih tergolong muda, Steve sudah memasuki fase pikun dini. Dokter spesialis saraf dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Samino, menyebutkan gejala yang diderita Steve adalah pikun ringan atau mild cognitive impairment. "Penyakit ini bisa diderita oleh mereka yang masih muda," katanya pada Kamis lalu.

Menjadi pikun dan renta memang proses alamiah tubuh yang semakin tua. Pikun, atau dalam bahasa kedokteran disebut demensia, dalam kondisi normal kebanyakan diderita saat manusia berusia 60 tahun ke atas. Saat demensia sudah diderita, terjadi penurunan daya ingat secara drastis. Bila terjadi pada orang berusia 40 tahun ke bawah, demensia masih dikategorikan ringan. "Tapi kalau dibiarkan bisa menyebabkan pikun permanen," kata Samino.

Ada dua tipe demensia, yaitu pikun total (demensia primer) yang diderita para manula. Umumnya disebabkan oleh faktor saraf yang melapuk karena usia atau alzheimer akut. Tipe kedua adalah demensia sekunder, yakni penurunan daya ingat ringan. Bentuknya seperti yang disebutkan tadi, sering lupa-lupa ingat. Ada banyak hal penyebab pikun ringan, antara lain faktor internal, seperti genetika. Samino bahkan menyebutkan, bila gen yang sudah berbicara, di usia belasan tahun pun bisa menderita pikun. Untuk kasus ini, memang pasien harus melewati analisis yang mendalam oleh tim dokter.

Penyakit stroke, radang otak, HIV/AIDS, tumor, diabetes, dan hipertensi juga bisa menyebabkan daya ingat menurun. Ada juga faktor psikologis, seperti stres, workaholic, dan perfeksionis. Tekanan-tekanan jiwa seperti ini, kata Samino, membuat otak selalu tegang dan lelah.

Untuk faktor eksternal, misalnya, cedera kepala, yaitu benturan dengan benda-benda tumpul. Cedera ini bisa disebabkan oleh kecelakaan atau karena olahraga. Misalnya olahraga tinju dan bela diri lain yang banyak berakibat pada kontak fisik di bagian kepala. "Karena benturan ini, otak cedera dan mengganggu sel saraf di dalamnya," kata Samino. Selain itu, bisa karena keracunan zat kimia, seperti logam berat dan air raksa. Cairan ini masuk ke otak dan bisa berakibat fatal bila dibiarkan berlangsung terus-menerus. Merokok dan mengkonsumsi minuman beralkohol yang berlebihan juga bisa menyebabkan pikun ringan. Keduanya secara perlahan mampu menurunkan kinerja otak. Penyebab lain adalah kekurangan vitamin golongan B.

Untuk pikun ringan seperti yang dialami Steve, menurut Samino, penanggulangannya bisa dilakukan secara ringan. Salah satu jurus paling ampuh adalah dengan membaca dan menulis. Kenapa? "Karena dengan banyak membaca dan menulis membuat otak kita bekerja maksimal," katanya. Jenis bacaan juga tidak mesti yang berat, seperti buku filsafat. Bacaan sekelas komik mampu membantu kerja otak. Begitu juga menulis. Bisa menulis apa saja, seperti artikel, mengarang, bahkan mengisi buku harian. "Budaya ini yang dilakukan masyarakat Jepang sehingga saat tua mereka masih bisa menggunakan otak secara maksimal," kata Samino.

Mustafa Silalahi

Tips Agar Tak Lupa-lupa Ingat

Selain membaca dan menulis, aktivitas berikut ini sangat dianjurkan untuk menghindari terserang pikun di usia dini.
• Mendengarkan musik. Musik yang disarankan adalah musik klasik, seperti karya Beethoven. Tapi musik jazz dan keroncong juga bisa.
• Memainkan alat musik membuat otak tetap prima.
• Berolahraga secara teratur atau melakukan gerakan-gerakan menyilang garis tengah, seperti menari.
• Sering melakukan senam otak, seperti bermain catur.


Anda pernah merasa uring-uringan dan pusing? Mungkin saja hal itu akibat kurang tidur. Jangan pernah anggap remeh keadaan ini! Kurang tidur dapat memengaruhi kehidupan seksual, daya ingat, kesehatan, penampilan, dan bahkan membuat tubuh Anda 'melar'.

Berikut ini 10 hal mengejutkan yang terjadi akibat kurang tidur:

1. Kecelakaan
Kurang tidur adalah salah satu faktor bencana terbesar dalam sejarah selain kecelakaan nuklir di Three Mile Island tahun 1979, tumpahan minyak terbesar Exxon Valdez, krisis nuklir di Chernobyl 1986, dan lain-lain.

Terdengar berlebihan, tapi Anda harus sadari kurang tidur juga berdampak pada keselamatan Anda setiap hari di jalan. Mengantuk dapat memperlambat waktu anda mengemudi setara ketika anda mabuk saat menyetir.

Sebuah penelitian yang dilakukan Lembaga Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Nasional Amerika memperkirakan bahwa kelelahan merupakan penyebab 100.000 kecelakaan mobil dan 1.500 kematian terjadi selama setahun di AS. Di mana korbannya orang di bawah umur 25 tahun.
Studi yang sama menunjukkan, jika Anda kurang tidur atau memiliki kualitas tidur yang rendah dapat menyebabkan kecelakaan dan cedera saat bekerja. Dalam sebuah penelitian, pekerja yang mengeluh mengantuk berlebihan di siang hari rentan terluka saat bekerja dan secara terus menerus mengalami kecelakaan yang sama saat bekerja.

2. Konsentrasi menurun
Tidur yang baik memainkan peran penting dalam berpikir dan belajar. Kurang tidur dapat mempengaruhi banyak hal. Pertama, mengganggu kewaspadaan, konsentrasi, penalaran, dan pemecahan masalah. Hal ini membuat belajar menjadi sulit dan tidak efisien. Kedua, siklus tidur pada malam hari berperan dalam "menguatkan" memori dalam pikiran. Jika Anda tidak cukup tidur, Anda tidak akan mampu mengingat apa yang Anda pelajari dan alami selama seharian.

3. Masalah kesehatan serius
Gangguan tidur dan kurang tidur tahap kronis dapat membawa Anda pada risiko :

* Penyakit jantung
* Serangan jantung
* Gagal jantung
* Detak jantung tidak teratur
* Tekanan darah tinggi
* Stroke
* Diabetes

Menurut beberapa penelitian, 90 persen penderita insomnia- gangguan tidur yang ditandai dengan sulit tidur dan tetap terjaga sepanjang malam - juga mengalami risiko kesehatan serupa.

4. Gairah seks menurun
Para ahli melaporkan, kurang tidur pada pria dan wanita menurunkan tingkat libido dan dorongan melakukan hubungan seksual. Hal ini dikarenakan energi terkuras, mengantuk, dan tensi yang meningkat.
Bagi pria yang mengidap sleep apnea- masalah pernapasan yang mengganggu saat tidur, menyebabkan gairah seksual melempem. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism 2002 menunjukkan, hampir semua orang yang menderita sleep apnea memiliki kadar testosteron yang rendah. Dan hampir setengah dari orang yang menderita sleep apnea parah memiliki tingkat testosteron yang rendah pada malam hari.

5. Menyebabkan depresi
Dalam studi tahun 1997, peneliti dari Universitas Pennsylvania melaporkan orang-orang yang tidur kurang dari 5 jam per hari selama tujuh hari menyebabkan stres, marah, sedih, dan kelelahan mental. Selain itu, kurang tidur dan gangguan tidur dapat menyebabkan gejala depresi.

Gangguan tidur yang paling umum, yaitu insomnia yang memiliki kaitan kuat dengan depresi. Dalam studi tahun 2007 melibatkan 10.000 orang, terungkap bahwa pengidap insomnia 5 kali lebih rentan depresi. Bahkan, insomnia sering menjadi salah satu gejala pertama depresi.

Insomnia dan tidak nafsu makan akibat depresi saling berhubungan. Kurang tidur memperparah gejala depresi dan depresi membuat anda lebih sulit tidur. Sisi positifnya, pola tidur yang baik dapat membantu mengobati depresi.

6. Memengaruhi kesehatan kulit
Kebanyakan orang mengalami kulit pucat dan mata bengkak setelah beberapa malam kurang tidur. Keadaaan tersebut benar karena kurang tidur yang kronis dapat mengakibatkan kulit kusam, garis-garis halus pada wajah dan lingkaran hitam di bawah mata.

Bila Anda tidak mendapatkan cukup tidur, tubuh Anda melepaskan lebih banyak hormon stres atau kortisol. Dalam jumlah yang berlebihan, kortisol dapat memecah kolagen kulit, atau protein yang membuat kulit tetap halus dan elastis.

Kurang tidur juga dapat menyebabkan tubuh lebih sedikit mengeluarkan hormon pertumbuhan. Ketika kita masih muda, hormon pertumbuhan manusia mendorong pertumbuhan. Dalam hal ini membantu meningkatkan massa otot, menebalkan kulit, dan memperkuat tulang.

"Ini terjadi saat tubuh sedang tidur nyenyak- yang kami sebut tidur gelombang lambat (SWS) - hormon pertumbuhan dilepaskan," kata Phil Gehrman, PhD, CBSM, Asisten Profesor Psikiatri dan Direktur Klinis dari Program Behavioral Sleep Medicine Universitas Pennsylvania, Philadelphia.

7. Pelupa
Tidak ingin lupa dengan kenangan terbaik dalam hidup Anda? Cobalah perbanyak tidur. Pada tahun 2009, peneliti dari Amerika dan Perancis menemukkan bahwa peristiwa otak yang disebut "“sharp wave ripples” bertanggung jawab menguatkan memori pada otak. Peristiwa ini juga mentransfer informasi dari hipokampus ke neokorteks di otak, dimana kenangan jangka panjang disimpan. Sharp wave ripples kebanyakan terjadi pada saat tidur.

8. Tubuh jadi melar
Jika Anda mengabaikan efek kurang tidur, bersiaplah dengan ancaman kelebihan berat badan. Kurang tidur berhubungan dengan peningkatan rasa lapar dan nafsu makan, dan kemungkinan bisa menjadi obesitas. Menurut sebuah studi tahun 2004, orang-orang yang tidur kurang dari enam jam sehari, hampir 30 persen cenderung menjadi lebih gemuk daripada mereka yang tidur tujuh sampai sembilan jam sehari.

Penelitian terakhir terfokus pada hubungan antara tidur dan peptida yang mengatur nafsu makan. Ghrelin merangsang rasa lapar dan leptin memberi sinyal kenyang ke otak dan merangsang nafsu makan. Waktu tidur singkat dikaitkan dengan penurunan leptin dan peningkatan dalam ghrelin.

Kurang tidur tak hanya merangsang nafsu makan. Hal ini juga merangsang hasrat menyantap makanan berlemak dan makanan tinggi karbohidrat. Riset yang tengah berlangsung meneliti apakah tidur yang layak harus menjadi bagian standar dari program penurunan berat badan.

9. Meningkatkan risiko kematian
Dalam penelitian Whitehall ke-2, peneliti Inggris menemukkan bagaimana pola tidur mempengaruhi angka kematian lebih dari 10.000 pegawai sipil Inggris selama dua dekade. Berdasarkan hasil penelitian yang dipublikasikan pada 2007, mereka yang telah tidur kurang dari 5-7 jam sehari mengalami kenaikan risiko kematian akibat berbagai faktor. Bahkan kurang tidur meningkatkan dua kali lipat risiko kematian akibat penyakit kardiovaskuler.

10. Merusak penilaian terutama tentang tidur
Kurang tidur dapat memengaruhi penafsiran tentang peristiwa. Keadaan tubuh yang lemas membuat kita tidak bisa menilai situasi secara akurat dan bijaksana. Anda yang kurang tidur sangat rentan terhadap penilaian buruk ketika sampai pada saat menilai apa yang kurang terhadap sesuatu.

Dalam dunia yang serba cepat saat ini, kebiasaan tidur menjadi semacam lencana kehormatan. Spesialis mengenai tidur mengatakan, Anda salah jika berpikir Anda baik-baik saja meski kurang tidur karena di mana pun Anda bekerja pada profesi apa pun, akan menjadi masalah besar bila Anda tidak dapat menilai sesuatu dengan baik.

"Studi menunjukkan bahwa dari waktu ke waktu, orang-orang yang tidur selama 6 jam, bukannya 7 atau 8 jam sehari, mulai merasa bahwa mereka telah beradaptasi dengan keadaan kurang tidur. Mereka sudah terbiasa dengan hal itu," kata Gehrman.

"Tapi jika Anda melihat hasil tes kinerja dan kewaspadaan mental, nilai mereka terus memburuk. Hal itu menjelaskan bagaimana kurang tidur menganggu aktivitas kita sehari-hari."
Tidur yang kurang dalam sehari bisa meningkatkan resiko penyakit jantung. Orang dewasa yang tidur kurang dari 7,5 jam pada malam hari maka kemungkinan menghadapi insiden kardiovaskuler seperti stroke dan serangan jantung mencapai 33 persen.
Peneliti Jepang memonitor waktu tidur 1.255 orang dalam 50 bulan. Mereka mengukur tekanan darah setiap hari dan setiap malam, lama waktu tidur dan penyakit kardiovaskuler seperti stroke, dan serangan jantung. Dalam penelitian itu ditemukan catatan 99 insiden penyakit kardiovaskuler pada orang yang kurang tidur dalam 7,5 jam.
Penelitian itu menemukan, tekanan darah mereka naik pada malam hari dan juga lebih merasa sakit pada jantung. “Dalam durasi yang lebih pendek waktu tidur seseorang, kemungkinan terserang penyakit jantung pada individu yang usianya lebih tua dan mempunyai tekanan darah tinggi,” tulis Kazuo Eguchi dari Universitas Medis Jichi.
Seperti dilansir dalam jurnal Asosiasi Medis Amerika, tidak cukup tidur juga berhubungan dengan obesitas, diabetes dan beberapa faktor resiko penyakit kardiovaskuler, termasuk tekanan darah tinggi dan kesulitan dalam bernafas saat tidur. (fn/km/mc) www.suaramedia.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar